Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kisah Kiai Tar, Murid yang Memilih Bertahan di Indonesia dan Menghidupkan Kembali Shiddiqiyyah

· 18 menit baca · Diperbarui

Kisah Kiai Tar, Murid yang Memilih Bertahan di Indonesia dan Menghidupkan Kembali Shiddiqiyyah

Dakwah terbalik: mengenalkan Islam melalui tarekat

Dalam pola yang lazim dikenal masyarakat, seseorang terlebih dahulu mempelajari dan menjalankan ajaran Islam, kemudian mendalami tasawuf atau bergabung dengan tarekat. Kesungguhan menjalankan syariat menjadi bagian penting dalam perjalanan spiritual itu.

Kiai Tar memilih titik masuk yang berbeda.

Ia mengenalkan Islam melalui tarekat, bukan semata-mata mengenalkan tarekat kepada orang yang sejak awal telah menjalankan ajaran Islam secara mapan.

Perbedaan itu bukan soal meniadakan syariat. Dalam penjelasan yang berkembang di lingkungan Shiddiqiyyah, pendekatan tersebut bertolak dari keyakinan bahwa kesadaran tauhid dapat menjadi pintu untuk menumbuhkan ketaatan.

Logikanya sederhana, tetapi konsekuensinya besar: seseorang yang belum menjalankan agama secara utuh tidak harus selamanya berada di luar proses pembinaan. Ia dapat diajak terlebih dahulu mengenal Allah, dibimbing berzikir, lalu diarahkan untuk memperdalam keyakinan dan menjalankan kewajiban agama.

Kiai Tar tidak menjadikan kondisi awal seseorang sebagai satu-satunya ukuran apakah ia layak dibimbing.

Ia berani menerima orang-orang yang baru mulai mengenal kehidupan spiritual. Setelah dibaiat, mereka tidak dibiarkan berjalan sendiri, melainkan terus diarahkan dan dibimbing.

Pendekatan itu membuat pintu masuk ke dalam jamaah menjadi lebih terbuka. Orang tidak harus datang dengan pengetahuan agama yang sempurna. Mereka datang dengan keadaan masing-masing, lalu menjalani proses pembelajaran.

Dalam kerangka ini, tarekat tidak hanya dipahami sebagai ruang pendalaman spiritual bagi mereka yang telah matang secara keagamaan, tetapi juga sebagai sarana pembinaan bagi orang yang sedang memulai perjalanan mendekat kepada Tuhan.

Inilah yang membuat metode Kiai Tar disebut sebagai dakwah terbalik.

Bukan karena ia membalikkan kedudukan syariat dan tauhid, melainkan karena ia mengubah urutan pendekatan kepada masyarakat: membangun kesadaran ketuhanan terlebih dahulu, kemudian membimbing pengikut untuk memperdalam dan mengamalkan ajaran agama.

Pendekatan itu menjawab persoalan praktis yang dihadapinya di Ploso. Jika masyarakat harus memenuhi seluruh tuntutan sebelum mendapat kesempatan dibimbing, orang-orang yang paling membutuhkan pendampingan justru berisiko tetap berada di luar.

Dengan membuka pintu sejak awal, Kiai Tar berusaha membawa mereka masuk ke dalam proses perubahan.

Dari 30 murid menuju jamaah yang diklaim mencapai jutaan

Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Moch. Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu'thi
Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Moch. Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu'thi

Tarekat Shiddiqiyyah pada awal kebangkitannya disebut memiliki sekitar 30 pengikut. Jumlah yang kecil itu tidak menjadi alasan untuk menghentikan dakwah.

Perkembangannya berlangsung melalui pembinaan, zikir, pengajian, dan hubungan antarpengikut yang terus dibangun. Mereka yang telah mengikuti ajaran kemudian menjadi bagian dari jaringan sosial yang lebih luas.

Kiai Tar menetapkan tiga tujuan utama pembinaan tarekat.

Pertama, membimbing manusia agar mengenal dan mendekat kepada Allah melalui zikir jahr, yakni zikir yang dilafalkan, serta zikir sirri, yakni zikir yang dilakukan secara batin.

Kedua, membimbing manusia agar bertakwa dengan sungguh-sungguh melalui salat, puasa, dan zikir.

Ketiga, membimbing manusia menjadi hamba yang bersyukur.

Ketiga tujuan tersebut menempatkan perjalanan spiritual bukan hanya pada pengalaman batin, tetapi juga pada pembentukan perilaku dan kesadaran dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam perkembangan berikutnya, warga Shiddiqiyyah membangun berbagai kegiatan sosial dan kebersamaan. Semangat cinta tanah air juga menjadi salah satu nilai yang ditekankan dalam lingkungan jamaah.

Kini, jumlah pengikut Shiddiqiyyah kerap disebut mencapai jutaan orang. Angka itu merupakan klaim yang berkembang di lingkungan tarekat dan tidak dengan sendirinya menunjukkan jumlah anggota yang telah diverifikasi secara independen.

Meski demikian, perjalanan dari sekitar 30 murid menuju jaringan yang tersebar luas memperlihatkan satu hal penting dalam sejarah gerakan tersebut: dakwah tidak hanya bergantung pada isi ajaran, tetapi juga pada cara ajaran itu diperkenalkan, dipahami, dan diwariskan.

Kiai Tar membangun pendekatan yang berangkat dari masyarakat yang benar-benar ada, bukan masyarakat ideal yang hanya dibayangkan.

Ia tidak memulai dengan asumsi bahwa semua orang sudah siap. Ia memulai dengan mengakui bahwa manusia datang dengan latar belakang, kebiasaan, dan tingkat pengetahuan yang berbeda-beda.

Dari sana, pembinaan dilakukan secara bertahap.

Penulis:

Editor: Moch Fahrur