ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kisah Kiai Tar, Murid yang Memilih Bertahan di Indonesia dan Menghidupkan Kembali Shiddiqiyyah
· 18 menit baca · Diperbarui
Amanat yang belum dipahami: mengapa nama Shiddiqiyyah harus dihidupkan kembali?
Syekh Syueb Jamali disebut menitipkan pesan kepada Mukhtar agar suatu hari, ketika sudah mampu, ia mengembalikan nama tarekat tersebut menjadi Shiddiqiyyah.
Mengapa bukan tetap Khalwatiyah?
Menurut penuturan Kiai Tar, sang guru tidak memberikan penjelasan panjang. Ia hanya memintanya mempelajari kitab Tanwirul Qulub fi Mu'amalati 'Allamil Ghuyub, karya Syekh Najmuddin Amin al-Kurdi, seorang ulama yang dikenal dalam tradisi Naqsabandiyah.
Ketika menerima amanat itu, Mukhtar belum pernah melihat kitab yang dimaksud. Ia menerima pesan gurunya tanpa memperoleh jawaban langsung.
Waktu berlalu. Dalam pencarian berikutnya, ia akhirnya menemukan kitab tersebut dan mempelajarinya. Jawaban yang dicari disebutnya terdapat pada halaman 539, dalam pembahasan Fashlun fi Adabil Murid ma'a Ikhwanihi.
Di bagian itu dijelaskan bahwa penamaan silsilah tarekat dapat berbeda sesuai periode dan jalur keilmuan yang berkembang. Silsilah yang bermula dari Abu Bakar ash-Shiddiq Ra. hingga Syekh Thoifur bin Isa Abi Yazid al-Busthomi dikenal sebagai Shiddiqiyyah.
Dalam pemahaman yang dipegang Kiai Tar, Shiddiqiyyah bukan sekadar label bagi sekelompok pengikut, melainkan nama yang berkaitan dengan silsilah spiritual atau sanad.
Silsilah tersebut, sebagaimana dipaparkan dalam tradisi Shiddiqiyyah, menghubungkan jalur ajaran melalui Jibril, Nabi Muhammad Saw., Abu Bakar ash-Shiddiq Ra., Salman al-Farisi Ra., Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq Ra., hingga Imam Ja'far Shodiq.
Pemahaman inilah yang kemudian menjadi pijakan bagi Kiai Tar untuk menghidupkan kembali nama Shiddiqiyyah.
Ia tetap menjaga hubungan dengan gurunya setelah pengembaraan. Komunikasi berlangsung melalui perjumpaan dan surat-menyurat. Surat terakhir dari Syekh Syueb yang diterimanya disebut berasal dari Alexandria, Mesir, sekitar 1965. Setelah itu, kabar sang guru tidak lagi diterimanya.
Amanat tersebut kini menjadi bagian penting dari narasi sejarah Shiddiqiyyah: seorang murid yang kembali ke kampung halaman, membawa nama dan sanad yang diyakininya harus dihidupkan kembali.
Tetapi menghidupkan nama sebuah tarekat tidak sama dengan membangun jamaah. Nama membutuhkan orang-orang yang bersedia mengikuti ajaran, sementara orang-orang tidak akan datang dengan sendirinya.
Mukhtar harus kembali menghadapi kenyataan di kampung halamannya.