Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kisah Kiai Tar, Murid yang Memilih Bertahan di Indonesia dan Menghidupkan Kembali Shiddiqiyyah

· 18 menit baca · Diperbarui

Kisah Kiai Tar, Murid yang Memilih Bertahan di Indonesia dan Menghidupkan Kembali Shiddiqiyyah

Dari Gresik hingga Banten, mencari guru yang tepat

Pengembaraan Mukhtar dimulai dari Cerme, Gresik. Ia kemudian menyinggahi Surowithi, Ujung Pangkah, Bejagung, Asmorokandi, dan Lamongan sebelum melanjutkan perjalanan hingga Banten.

Setelah itu, ia menyusuri sejumlah wilayah di pesisir selatan Jawa melalui Yogyakarta, Solo, dan Madiun, sebelum kembali ke Ploso.

Di sepanjang perjalanan, Mukhtar bertemu dengan banyak ulama dan tokoh spiritual. Namun, salah satu perjumpaan terpenting terjadi pada 1952, ketika ia bertemu Syekh Syueb Jamali di Masjid Agung Banten.

Syekh Syueb dikenal sebagai mahaguru Tarekat Shiddiqiyyah. Pertemuan tersebut kemudian menjadi titik balik yang menentukan arah perjalanan spiritual Mukhtar.

Menurut riwayat yang berkembang di lingkungan Shiddiqiyyah, hampir 40 orang dari berbagai daerah pernah berguru kepada Syekh Syueb. Dari jumlah itu, tujuh orang dinilai layak meneruskan ajarannya. Enam di antaranya mengikuti sang guru mengembara ke Timur Tengah, sementara Mukhtar memilih bertahan di Indonesia.

Pilihan itu kelak memiliki arti penting. Ia tidak sekadar menerima pelajaran dari seorang guru, tetapi juga menjadi orang yang membawa amanat tersebut kembali ke tanah kelahirannya.

Setelah beberapa kali bertemu di tempat berbeda, Mukhtar akhirnya dibaiat oleh Syekh Syueb di Kaseman, Banten, dengan nama Tarekat Khalwatiyah.

Khalwatiyah merupakan tarekat yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi tasawuf. Di Nusantara, salah satu tokoh yang dikenal mengamalkan tarekat tersebut adalah Syekh Yusuf al-Makassari, ulama asal Makassar yang pernah menjadi guru spiritual di Kesultanan Banten sebelum dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda ke Afrika Selatan.

Baiat itu menandai sebuah babak baru dalam hidup Mukhtar. Namun, amanat yang menyertainya ternyata menyimpan pertanyaan yang baru terjawab beberapa tahun kemudian.

Penulis:

Editor: Moch Fahrur