ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Tidur di Kios Jahit, Keluarga Ini Akhirnya Punya Rumah Mewah Gratis dari OPSHID
· 8 menit baca · Diperbarui
Atap bocor, genteng berlubang, dan dinding retak membuat seorang penjahit permak bersama istri dan dua anaknya terpaksa tidur di kios jahit. Di tengah penghasilan yang tak menentu, bantuan pembangunan rumah dari OPSHID membuka jalan bagi keluarga ini untuk kembali memiliki tempat tinggal yang layak.
Malam seharusnya menjadi waktu bagi sebuah keluarga untuk beristirahat, berkumpul, dan melepaskan lelah setelah seharian bekerja. Namun, bagi seorang penjahit permak pakaian dan keluarganya, malam justru menjadi pengingat akan keadaan hidup yang belum banyak memberi pilihan.
Ketika sebagian orang menutup pintu rumah untuk beristirahat, keluarga ini justru menghabiskan malam di kios jahit tempat sang ayah mencari nafkah. Bukan karena ingin tinggal dekat dengan pekerjaannya, melainkan karena rumah yang mereka miliki sudah tak lagi layak untuk dihuni.
Atap bocor, genteng rusak dan berlubang, serta dinding yang retak membuat rumah itu kehilangan fungsinya sebagai tempat berlindung. Bagi keluarga tersebut, pulang ke rumah sendiri tak lagi menjanjikan rasa aman.

Bersama istri dan dua anaknya, sang penjahit akhirnya memilih tidur di kios. Tempat yang setiap hari menjadi saksi perjuangannya mencari penghasilan itu sekaligus menjadi ruang bagi keluarganya untuk beristirahat.
Kisah keluarga ini direkam dalam video OPSHID Media TV yang ditayangkan pada 9 Oktober 2026. Di balik kisah sederhana seorang penjahit, tersimpan potret perjuangan keluarga yang berusaha bertahan ketika kebutuhan hidup terus berjalan, sementara kemampuan untuk memperbaiki rumah masih jauh dari jangkauan.
Kini, keadaan itu mulai berubah. Rumah mereka akan dibangun ulang tanpa biaya melalui program sosial Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID).
Penghasilan Tak Menentu, Rumah Sendiri Tak Lagi Aman
Sang ayah bukan orang yang berpangku tangan menunggu pertolongan. Ia membuka usaha permak pakaian sendiri, mengandalkan keterampilan menjahit untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Pekerjaan itu memberinya jalan untuk tetap mencari nafkah secara mandiri. Namun, sebagaimana usaha kecil pada umumnya, pendapatan tidak selalu datang dalam jumlah yang sama setiap hari.
"Namanya jahit kan enggak setiap hari ramai, kadang sepi," katanya.
Kalimat itu menggambarkan kenyataan yang dihadapi banyak pekerja sektor informal. Ada hari ketika pelanggan datang silih berganti, tetapi ada pula waktu ketika pekerjaan sepi dan pemasukan berkurang.
Sementara itu, kebutuhan keluarga tidak mengenal musim sepi. Makan, pakaian, pendidikan anak, dan keperluan sehari-hari tetap harus dipenuhi.
Dalam keadaan seperti itu, memperbaiki rumah yang mengalami kerusakan bukan perkara sederhana. Pekerjaan yang menghasilkan uang setiap hari pun belum tentu cukup untuk menutup kebutuhan hidup sekaligus membiayai pembangunan rumah.
Lambat laun, kerusakan rumah membuat keluarga tersebut harus mengambil keputusan yang tidak mudah. Rumah yang semestinya menjadi tempat paling nyaman justru ditinggalkan karena kondisinya tidak lagi memungkinkan untuk ditinggali dengan aman.
Mereka kemudian tidur di kios jahit. Tempat itu mungkin dekat dengan sumber penghasilan, tetapi tentu berbeda dengan rumah yang memiliki ruang untuk beristirahat, berkumpul, dan membesarkan anak-anak.
Bagi orang dewasa, keadaan semacam itu menuntut ketabahan. Bagi anak-anak, kondisi tempat tinggal juga dapat memengaruhi kenyamanan mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, keluarga ini terus bertahan. Sang ayah tetap bekerja dengan keterampilan yang dimilikinya, menjalani hari demi hari tanpa mengetahui kapan keadaan rumah mereka dapat diperbaiki.