ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kabar Buruk Menyebar Cepat, Kabar Baik Kerap Tenggelam
· 3 menit baca
Cukup hitungan menit. Sebuah kabar buruk bisa melompat dari satu grup WhatsApp ke grup lain sebelum akhirnya ramai di media sosial. Lalu bagaimana dengan kabar baik yang dirintis lewat kerja keras bertahun-tahun? Tak jarang ia lewat tanpa jejak.
Psikologi punya istilah untuk gejala ini, yakni negativity bias. Artinya, manusia cenderung menaruh perhatian lebih besar pada informasi yang bernada negatif. Namun, kecenderungan bawaan itu tidak bekerja sendirian. Cara kerja algoritma platform, lingkaran pergaulan, kepentingan pihak tertentu, hingga kebiasaan pengguna ikut menentukan kabar mana yang akhirnya meluas.
Polanya gampang dikenali. Begitu seseorang berbuat salah, kabarnya beredar dari tangan ke tangan. Lembaga yang terbelit masalah segera jadi bahan obrolan. Lain cerita dengan mereka yang mendirikan rumah untuk keluarga kurang mampu, mengajak warga bergerak, atau benar-benar menuntaskan persoalan sosial. Semangat untuk mengabarkan kerja mereka jarang setinggi itu.
Otak Lebih Siaga pada Bahaya
Sesuatu yang dianggap berbahaya atau bisa merugikan cenderung membuat otak manusia lebih siaga. Itulah sebabnya skandal, pertikaian, ancaman, dan berita buruk gampang menyita perhatian.
Di linimasa, kepekaan tersebut berpadu dengan rasa penasaran, gejolak emosi, serta keinginan untuk turut berkomentar. Unggahan yang membangkitkan amarah, rasa takut, atau keterkejutan pun kerap lebih cepat dilirik.
Meski begitu, lebih viralnya kabar buruk tidak serta-merta menandakan masyarakat membenci kebaikan. Dorongan psikologis dan sosial sama-sama bekerja di baliknya sehingga berita negatif lebih gampang naik ke permukaan.
Viral Semalam, Dibangun Bertahun-tahun
Coba bandingkan dua kejadian.
Kejadian pertama: video seseorang yang berbuat salah menyebar ke mana-mana. Ribuan warganet mengomentari dan membagikannya ulang. Perdebatannya bisa bertahan berhari-hari.
Kejadian kedua berjalan jauh lebih senyap. Dengan dana yang dikumpulkan sendiri, sekelompok orang mendirikan hunian untuk keluarga tidak mampu. Butuh berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, hingga rumah itu rampung dan penghuninya bisa tinggal lebih layak.
Kejadian pertama berpeluang viral hanya dalam satu malam. Sorotan yang setara belum tentu diperoleh kejadian kedua, meski dampak sosial yang ditimbulkan keduanya jelas tidak sama.
Kritik terhadap kesalahan tetap diperlukan, asalkan proporsional. Begitu pula publik berhak tahu tentang upaya konkret yang mendatangkan faedah. Persoalan baru timbul saat sensasi menjadi satu-satunya penentu arah perhatian, sedangkan manfaat yang nyata malah karam.
Rumah Syukur dan 507 Unit Hunian
Salah satu gambaran datang dari program Rumah Syukur, Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) mencatat:
- 507 unit rumah dibangun hingga 2026
- nilai keseluruhan melampaui Rp39 miliar
- program berjalan selama lebih dari dua dekade
Selama data dan keterangan tersebut bisa diverifikasi, capaian semacam ini layak masuk ke ruang perbincangan warga sebagai contoh kabar baik.
Beda Kepentingan Publik dan Sensasi
Tidak semua kabar buruk disebarkan dengan niat yang sama. Sebagian dibagikan demi kepentingan publik. Sebagian lagi sekadar mengejar sensasi.
Kasus korupsi, penipuan, kekerasan, dan penyalahgunaan wewenang termasuk informasi yang perlu sampai ke masyarakat. Kabar semacam itu dapat menjadi peringatan agar tidak ada korban berikutnya, sekaligus menuntut pihak terkait bertanggung jawab.
Perkaranya lain jika kabar buruk diteruskan tanpa dicek, dilebih-lebihkan, atau malah menjadikan derita orang lain sebagai tontonan.
Kabar baik pun tunduk pada prinsip serupa. Menyebarkannya bukan berarti melontarkan pujian tanpa nalar kritis. Kebenarannya tetap harus diuji.
Pada titik inilah keseimbangan diperlukan: tegas terhadap kesalahan, adil saat mengakui kebaikan. Ruang publik yang hanya dijejali keburukan akan meninggalkan kesan seolah tak ada lagi yang patut dihargai. Kenyataannya, di sela berbagai masalah, masih banyak orang yang terus bekerja dan menolong sesama demi mengubah nasib orang lain menjadi lebih baik.
Jeda Sebelum Menekan Tombol Bagikan
Setiap pesan yang masuk sesungguhnya membuka dua kemungkinan. Pesan itu bisa diteruskan seketika karena terbawa perasaan. Atau, penerimanya memilih berhenti sebentar, memeriksa kebenarannya, lalu menimbang apa gunanya.
Bila menyangkut kepentingan publik, kabar buruk perlu disebarkan dengan penuh tanggung jawab. Bila memperlihatkan kerja nyata yang berguna, kabar baik semestinya diberi tempat tanpa ragu.
Menyembunyikan keburukan tidak otomatis membuat masyarakat membaik. Sebaliknya, masyarakat juga sulit tumbuh sehat bila kebaikan terus dilewatkan. Mengungkap kesalahan menuntut keberanian. Mengakui keberhasilan menuntut kelapangan hati.
Pada ujungnya, kecepatan membagikan berita bukanlah inti persoalan. Yang lebih menentukan adalah jenis informasi yang hendak dirawat agar tumbuh di tengah masyarakat. Jangan sampai orang begitu bergairah mengabarkan mereka yang merobohkan, lalu mendadak bungkam saat ada yang tengah membangun.