ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kisah Kiai Tar, Murid yang Memilih Bertahan di Indonesia dan Menghidupkan Kembali Shiddiqiyyah
· 18 menit baca · Diperbarui
Tahun 1959: pulang ke Ploso, mendapati masjid nyaris kosong
Setelah hampir satu dekade menjalani perjalanan dan menetap di luar kampung halaman, Mukhtar kembali ke Ploso pada 1959.
Sebelumnya, setelah mengembara hingga Banten, ia sempat menjelajahi desa-desa di Lamongan. Pada 1953, ketika berusia sekitar 25 tahun, ia menikahi Nyai Sunaiyyah dari Desa Gedong Rejotengah dan menetap di sana.
Namun, ibunya, Nyai Nasikhah, kemudian memintanya pulang.
Kehidupan beragama di Ploso dinilai memprihatinkan. Menurut riwayat yang berkembang dalam lingkungan Shiddiqiyyah, jamaah masjid saat itu nyaris kosong. Yang tersisa disebut hanya keluarga Mudin Malik dan keluarga Nyai Nasikhah.
Mukhtar menghadapi masyarakat dengan persoalan sosial yang kompleks. Perjudian, kebiasaan mabuk, dan perilaku yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama menjadi bagian dari gambaran masyarakat yang ia jumpai.
Kawasan itu bahkan dikisahkan mendapat julukan kepet.
Bagi seorang pendakwah, keadaan seperti itu menghadirkan dilema. Ia dapat langsung menyampaikan ceramah tentang kewajiban agama, menegur perilaku masyarakat, atau mengajak mereka menjalankan syariat secara lebih ketat.
Tetapi, apakah pendekatan tersebut akan membuat orang-orang yang sudah jauh dari kehidupan agama bersedia mendekat?
Mukhtar memilih jalan berbeda.
Ia tidak langsung berdiri di depan masyarakat untuk menghakimi kebiasaan mereka. Sebaliknya, ia lebih dahulu berusaha memahami lingkungan yang hendak diubahnya.
Langkah pertama yang diambilnya justru bukan membuka pengajian besar atau membangun pesantren baru. Ia pergi ke pasar.