Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kisah Kiai Tar, Murid yang Memilih Bertahan di Indonesia dan Menghidupkan Kembali Shiddiqiyyah

· 18 menit baca · Diperbarui

Kisah Kiai Tar, Murid yang Memilih Bertahan di Indonesia dan Menghidupkan Kembali Shiddiqiyyah

Angin ribut meratakan rumah-rumah di Losari, Jombang, pada 14 Oktober 1928. Di tengah prahara itu, seorang bayi lahir di rumah yang tetap berdiri. Hampir tiga dekade kemudian, ia kembali ke kampung halamannya dengan sebuah misi: menghidupkan kembali Tarekat Shiddiqiyyah. Bagaimana perjalanan bocah yang gemar berburu jangkrik di kuburan itu hingga dikenal sebagai Kiai Mukhtar Mu'thi, sang mursyid yang membangun gerakan spiritual dari puluhan murid menjadi jaringan yang beranggotakan jutaan orang?

Pada pagi yang belum sepenuhnya terang, Ahad Kliwon, 14 Oktober 1928, angin ribut menerjang Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Rumah-rumah rusak, pohon-pohon tumbang, dan puluhan orang dikisahkan meninggal dunia. Sebuah atap gudang kayu di utara Losari bahkan disebut terlempar hingga mendekati Sungai Brantas, sekitar 1,5 kilometer dari tempatnya semula.

Warga mengenang kejadian itu sebagai prahoro, sebuah kata Jawa yang menggambarkan keributan besar.

Di tengah peristiwa tersebut, seorang bayi laki-laki lahir dari pasangan KH. Abdul Mu'thi dan Nyai Nasikhah. Namanya Mochammad Mukhtar Mu'thi. 

Kelak, masyarakat mengenalnya sebagai Kiai Mukhtar Mu'thi, atau Kiai Tar. Ia menjadi tokoh yang menghidupkan kembali Tarekat Shiddiqiyyah di Indonesia, dengan pusat perkembangan di kampung halamannya sendiri.

Kisah kelahirannya tercatat dalam buku Sejarah Thoriqoh Shiddiqiyyah Fase Pertama, Kelahiran Kembali Thoriqoh Shiddiqiyyah terbitan 2015. Namun, di balik kisah yang dikenang para pengikutnya itu, perjalanan hidup Kiai Tar jauh lebih panjang daripada sebuah cerita kelahiran di tengah bencana.

Ia tumbuh di lingkungan pesantren, mengalami keterbatasan ekonomi, meninggalkan bangku pendidikan untuk menopang keluarga, mengembara dari satu tempat ke tempat lain, hingga bertemu seorang guru yang menitipkan amanat besar. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan yang pada akhirnya mempertemukan dirinya dengan sebuah pertanyaan: bagaimana membawa manusia yang jauh dari kehidupan agama agar bersedia mendekat kepada Tuhan?

Dari tanah bekas rawa menuju lingkungan pesantren

Losari, tempat Mukhtar dilahirkan, dahulu dikenal sebagai Losari Rowo. Kawasan di tepian Sungai Brantas itu, sekitar 10 kilometer di utara Kota Jombang, mulanya berupa rawa-rawa.

Kakeknya, Kiai Achmad Syuhada, bersama saudaranya disebut berperan membuka kawasan tersebut hingga layak dihuni. Lingkungan itu kemudian dikenal pula sebagai Losari Pesantren.

Lebih dari setengah abad sebelum Mukhtar lahir, Kiai Syuhada telah mendirikan Pesantren Kedungturi. Dengan demikian, Mukhtar tumbuh di lingkungan yang telah memiliki tradisi keagamaan dan pendidikan Islam.

Di dalam keluarganya, kelahirannya juga disertai cerita tersendiri. Menurut kisah keluarga, Kiai Zamroji, kakek buyutnya, pernah menyampaikan sebuah perkataan ketika Nasikhah masih gadis. Kelak, katanya, Nasikhah akan mempunyai anak laki-laki yang nukuli.

Dalam bahasa Jawa, nukuli berarti menumbuhkan atau membuat sesuatu berkembang.

Bagi para pengikut Kiai Tar, perkataan itu kemudian dipahami sebagai ramalan tentang pengaruh yang akan dibawanya. Namun, pengaruh tersebut tidak hadir begitu saja. Ia dibangun melalui pendidikan, perjalanan, perjumpaan dengan guru, serta pendekatan dakwah yang pada masanya dinilai tidak lazim.

Sebelum menjadi mursyid, Mukhtar adalah seorang anak yang dikenal berani, cerdik, dan memiliki rasa ingin tahu besar.

Penulis:

Editor: Moch Fahrur