ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kisah Kiai Tar, Murid yang Memilih Bertahan di Indonesia dan Menghidupkan Kembali Shiddiqiyyah
· 18 menit baca · Diperbarui
Setahun menjadi penjual arloji: dakwah yang dimulai dengan memahami masyarakat
Selama sekitar satu tahun, Kiai Tar dikisahkan bolak-balik dari Ploso ke Pasar Legi, Jombang, untuk berdagang arloji.
Dari luar, kegiatannya tampak seperti aktivitas seorang pedagang biasa. Namun, menurut kisah perjalanan dakwahnya, ia menggunakan kesempatan tersebut untuk mengenali keadaan masyarakat yang hendak didekatinya.
Ia mempelajari kebiasaan mereka, memahami bahasa yang mereka gunakan, dan mencari cara agar pesan spiritual dapat diterima tanpa membuat orang merasa langsung dihakimi.
Pilihan menjadi pedagang arloji itu menarik karena memperlihatkan perbedaan antara dua pendekatan dakwah. Pendekatan pertama dimulai dengan tuntutan: seseorang harus berubah terlebih dahulu sebelum diterima. Pendekatan kedua dimulai dengan membangun hubungan, lalu membimbing perubahan secara bertahap.
Kiai Tar memilih pendekatan kedua.
Dalam kisah dakwahnya, ia memperkenalkan Ilmu Layar Tujuh Pati, ajaran yang dikaitkan dengan tradisi Kejawen dan cara penyampaian spiritual yang menggunakan bahasa serta rasa Jawa.
Ajaran tersebut, menurut penjelasan di lingkungan Shiddiqiyyah, dipandang sebagai salah satu cara untuk mengenalkan nilai-nilai tarekat kepada masyarakat Jawa yang belum memiliki pengetahuan agama mendalam.
Di sinilah Kiai Tar mengambil pelajaran dari pendekatan dakwah yang dinisbatkan kepada Wali Songo: pesan agama perlu disampaikan dengan bahasa yang dapat dipahami oleh orang yang menerimanya.
Ia tidak ingin masyarakat langsung menganggap ilmu yang diperkenalkannya sebagai ilmu kanuragan atau ilmu hitam. Ia membimbing mereka sedikit demi sedikit untuk memahami bahwa jalan yang ditempuhnya berkaitan dengan tauhid, zikir, dan hubungan manusia dengan Allah.
Pendekatan tersebut bukan berarti perjalanan dakwahnya tanpa tantangan. Justru, ia menghadapi pekerjaan yang tidak ringan: mengubah cara pandang masyarakat tanpa memutus hubungan dengan mereka.
Dari pasar, perjumpaan sehari-hari, dan pendekatan yang bertahap, lingkaran orang yang tertarik mulai terbentuk.
Namun, ada satu persoalan yang lebih mendasar. Bagaimana mengajak orang yang masih jauh dari praktik keagamaan untuk memasuki sebuah tarekat yang dikenal menuntut kesungguhan spiritual?
Jawaban Kiai Tar akan menjadi ciri paling menonjol dalam metode dakwahnya.