Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Pesantren Tanamkan Cinta Tanah Air lewat Kurikulum dan Rumah Syukur

· 2 menit baca

Pesantren Tanamkan Cinta Tanah Air lewat Kurikulum dan Rumah Syukur
Kosongsatu / Pesantren Majmal Bahrain

Dari PAUD hingga perkuliahan, santri diajak mengamalkan cinta tanah air lewat pelajaran khusus, pembacaan Pancasila, dan pembangunan Rumah Syukur untuk warga lintas agama.

Pesantren Majmal Bahrain menanamkan cinta tanah air kepada santri sejak jenjang pendidikan anak usia dini. Nilai itu disampaikan lewat pelajaran khusus, pembacaan Pancasila setiap hari, dan monumen kebangsaan di lingkungan pesantren. Pesantren ini berada di bawah bimbingan Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah, Syekh Moch. Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu'thi.

Syekh Moch. Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu'th
Syekh Moch. Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu'th

 

Penekanan itu paling kuat pada satuan pendidikan usia dini. Anak-anak diperkenalkan dengan nilai luhur kebangsaan dan diajak menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza sebelum kegiatan di kelas dimulai. Pengurus menyebut dasar ajarannya adalah ungkapan bahwa cinta tanah air bagian dari iman.

Jenjang dan Pelajaran Induk

Pendidikan di pesantren ini berjenjang. Setelah PAUD dan TK ada Bustanul Ula yang setara SD atau MI, lalu Bustanul Tsani yang setara SMP atau madrasah tsanawiyah, dan Bustanul Tsalis yang setara SMA atau madrasah aliyah. Kepala sekolah Bustanul Tsalis menjelaskan bahwa pelajaran umum tetap ada, tetapi bukan menu utama.

Menu utamanya enam pelajaran induk yang disusun sang mursyid dari ratusan kitab. Isinya sejarah para nabi, makrifatuddin, akhlak, ulumul Quran, makrifatullah, dan pelajaran cinta tanah air. Pada makrifatullah, dasar awalnya diambil dari pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Anak-anak juga membaca sumpah jati diri bangsa, yang menegaskan bahwa mereka tidak akan meninggalkan jati diri sebagai anak Indonesia di mana pun, kapan pun, dan apa pun risikonya.

Pelajaran cinta tanah air di Bustanul Tsalis menjelaskan hubungan cinta tanah air dengan iman. Salah satu alasannya, tubuh manusia terbentuk dari makanan dan minuman yang tumbuh dari tanah Indonesia.

Dua santri tingkat 12 menyampaikan pandangan serupa. Menurut mereka, manusia terdiri dari unsur air dan tanah, sehingga tidak mencintai tanah air sama dengan mengingkari wujud jasmani sendiri.

Perkuliahan dan Rumah Syukur

Lulusan Bustanul Tsalis dapat melanjutkan ke Istidadul Maqasidul Quran (IMQ), tahap persiapan sebelum mengikuti pelajaran Maqasidul Quran yang diajarkan langsung oleh Sang Mursyid. Di IMQ tersedia perkuliahan jurusan manajemen dan keguruan. Pengelola menyebut ilmu itu sebagai bekal bermasyarakat dan berdakwah.

Pengurus organisasi warga Shiddiqiyyah juga menjalankan program Rumah Syukur sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan. Program ini membangun rumah satu unit untuk satu penerima. Penerimanya berasal dari berbagai agama. Yang terbaru, penerima berasal dari umat Hindu di Karangasem, Bali, selain dari umat Kristen dan mayoritas Muslim.

Seluruh kegiatan, termasuk jelajah desa, santunan, dan pameran karya, dibiayai secara mandiri oleh anggota dan warga tanpa mengajukan proposal ke pihak luar. Pendanaan juga ditopang usaha bernama Sehat Tentrem, yang memproduksi rokok kretek, kopi, dan cokelat. Menurut pengelola, 80 persen keuntungan bersih usaha itu dipakai untuk kegiatan Shiddiqiyyah. Produknya memakai kemasan bermotif batik dan tulisan "untuk Indonesia Raya".

Penulis:

Editor: Moch Fahrur