ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kisah Kiai Tar, Murid yang Memilih Bertahan di Indonesia dan Menghidupkan Kembali Shiddiqiyyah
· 18 menit baca · Diperbarui
Ketika ekonomi menghentikan sekolah, pencarian spiritual justru dimulai
Selepas wafatnya sang ayah, Mukhtar mempelajari tasawuf kepada Kiai Muntoha di Kedung Macan, Sambong, Jombang. Kiai Muntoha dikenal sebagai mursyid Tarekat Naqsabandiyah, Anfasiyah, dan Akmaliyah.
Mukhtar kemudian memilih Tarekat Anfasiyah dan berbaiat kepada Kiai Musytari, murid Kiai Zamroji, kakek buyutnya.
Keputusan tersebut menjadi salah satu pintu awal yang membawanya memasuki dunia tarekat secara lebih mendalam.
Namun, pencarian spiritualnya tidak berhenti pada satu guru atau satu lingkungan. Mukhtar ingin memahami perjalanan batin melalui pengalaman yang lebih luas. Ia pun mengembara.
Perjalanan itu tidak dimulai dengan bekal berlimpah. Mukhtar harus bekerja, berdagang, dan menempuh perjalanan dari satu daerah ke daerah lain.
Di tepi Sungai Padas, Jombang, ia biasa beristirahat setelah berkeliling menjajakan dagangan. Di tempat itu, ia menunaikan salat dan merenungi kehidupan. Menurut kisah yang dituturkan para pengikutnya, pengalaman di tepi sungai tersebut menjadi salah satu tonggak pemikiran tasawufnya.
Pada suatu masa, ia memutuskan melakukan perjalanan untuk mencari makna hidup dan memperdalam pengetahuan spiritual.
Nyai Nasikhah memberikan restu, tetapi dengan satu syarat: Mukhtar harus membawa kitab Dalail al-Khairat, peninggalan ayahnya.
Kitab karya Syekh Muhammad al-Jazuli itu dikenal sebagai kumpulan selawat dan pujian kepada Nabi Muhammad Saw. Kitab tersebut menjadi bekal penting dalam pengembaraan yang segera membawanya melintasi sejumlah wilayah di Jawa.
Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan geografis. Ia menjadi bagian dari pencarian seorang murid yang ingin menemukan guru, memahami sanad keilmuan, dan meneguhkan jalan spiritualnya.