Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Pengurus OPSHID Ungkap Syarat Penerima Rumah Syukur

· 3 menit baca

Pengurus OPSHID Ungkap Syarat Penerima Rumah Syukur
OPSHID Media TV

Siapa yang dibangunkan rumah, siapa yang menanggung biayanya, dan kenapa satu rumah bisa menelan Rp100 juta sampai Rp150 juta? Pengurus OPSHID menjawabnya.

Arya Rahman, pengurus Dewan Pimpinan Pusat Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) bidang sosial kemanusiaan, menjelaskan cara memilih penerima Rumah Syukur Layak Huni.

Ia berbicara dalam wawancara 2023 yang diunggah ulang OPSHID Media TV pada 15 Oktober 2026.

Saat itu OPSHID menyiapkan 65 unit rumah di 13 provinsi untuk memperingati Sumpah Pemuda dan lahirnya lagu kebangsaan Indonesia Raya yang ke-95. Pemberitaan media mencatat serah terima 66 rumah pada 28 Oktober 2023.

Lima Syarat dan Satu Kunci: Tanah

Tanah harus bersih dari sengketa, penerima harus duafa. Pengurus pusat OPSHID menjelaskan cara memilih penerima rumah gratis, dari sumber dana sampai kenapa satu rumah dibangun Rp150 juta.

Arya menyebut calon penerima harus memenuhi lima kriteria:

1. kaum duafa,

2. yatim piatu,

3. status tanah jelas,

4. sulit menopang ekonomi harian,

5. dan punya riwayat sakit fisik maupun mental. Semuanya harus terpenuhi.

Soal tanah, ia merinci tiga bentuk yang diterima. Tanah bersertifikat atas nama penerima, tanah waris yang diketahui dan dibubuhi tanda tangan bermeterai aparat desa, atau tanah hibah tetangga dengan sepengetahuan desa.

Pengurus OPSHID Ungkap Syarat Penerima Rumah Syukur
Arya DPP OPSHID FKYME

 

Alasannya, kata Arya, penerima perlu kepastian hukum sejak awal. Setidaknya, tanah yang ditempati itu "sudah tidak bisa diganggu gugat baik dari saudara ataupun tetangga atau orang lain".

Siapa pun boleh mengusulkan saudara atau tetangganya. Namun OPSHID tidak memberi jaminan. "Kami tidak menjanjikan karena ya itu tadi syarat-syarat dan ketentuan tersebut masih jadi pertimbangan," ujarnya.

Daerah yang sudah punya warga atau anggota OPSHID diutamakan. Alasannya, relawan dari luar kota yang datang membangun butuh tempat singgah dan bantuan setempat.

Agama penerima tidak jadi pertimbangan. "Politik kita itu hanya satu, cinta tanah air," kata Arya.

Dari Mana Uangnya

Arya mengatakan biaya per unit berkisar Rp100 juta sampai Rp150 juta, termasuk material, konsumsi, dan operasional.

Anggaran satu rumah, menurut Arya, berkisar Rp100 juta sampai Rp150 juta, sudah termasuk material, konsumsi, dan operasional. Ia memilih satu rumah kokoh daripada beberapa rumah sederhana.

Dana datang dari kesadaran anggota, patungan warga Shiddiqiyyah, serta dukungan PT Sehat Tentrem milik pimpinan organisasi. Sumbangan juga berupa semen, besi, genteng, beras sekarung, hingga sayuran dari petani.

Arya mengaku pernah ada anggota yang menggadaikan BPKB motor untuk urunan, sebelum Sehat Tentrem berdiri sekitar 2013. "Kalau sekarang alhamdulillah sangat terbantu," katanya.

Kenapa tidak dibagi untuk lima rumah murah? Arya menjawab dengan teladan pimpinan: "Kalau membangunkan atau memberi itu yang baik sekalian. Jangan asal-asalan."

Rumah yang kokoh, lanjutnya, meminimalkan biaya perawatan bagi penerima yang ekonominya lemah. Pembangunan memakan 30 sampai 40 hari dan penerima baru diberi tahu dua hari sebelum rumah lama dibongkar.

OPSHID menyebut Rumah Syukur sebagai monumen Sumpah Pemuda. Di setiap unit terpasang pigura pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan lambang Garuda Pancasila.

Penerima juga didampingi setelah rumah jadi. OPSHID menyambangi mereka minimal setahun sekali dengan parsel hari raya, termasuk Natal bagi penerima Nasrani. Ada pula yang dibuatkan kios atau gerobak dagang.

Rumah susun pernah dibicarakan, tetapi belum terwujud karena penerima dikhawatirkan sulit beradaptasi jauh dari mata pencahariannya. "Rumah itu adalah satu lambang jiwa atau perlambangan hati," kata Arya, mengutip pesan pimpinan mereka.

*

Penulis:

Editor: Moch Fahrur