ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kisah Kiai Tar, Murid yang Memilih Bertahan di Indonesia dan Menghidupkan Kembali Shiddiqiyyah
· 18 menit baca · Diperbarui
Keturunan Nabi, tetapi tidak menjadikan nasab sebagai ukuran utama
Ada satu sisi lain dalam kehidupan Kiai Tar yang memperlihatkan cara pandangnya terhadap manusia: persoalan nasab atau garis keturunan.
Menurut silsilah yang berkembang dalam tradisi keluarganya, Kiai Tar memiliki hubungan keturunan dengan Nabi Muhammad Saw. melalui jalur ayah dan ibu. Jalur ayahnya ditelusurkan melalui keluarga KH. Abdul Mu'thi dan KH. Ahmad Syuhada, yang dikaitkan dengan Sunan Kalijaga. Sementara jalur ibunya, Nyai Nasikhah, ditelusurkan melalui KH. Ahmad Zamroji dan Sunan Gunung Jati.
Kedua jalur itu menghubungkan silsilah keluarga dengan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam di Jawa serta keluarga besar Rasulullah.
Namun, Kiai Tar justru dikenal menekankan bahwa hubungan antarmanusia tidak semata-mata ditentukan oleh garis darah.
Ia memperkenalkan gagasan nasab sabab, yakni hubungan kekerabatan yang terbentuk karena sebab atau ikatan tertentu. Dalam pemahamannya, orang-orang yang seperjuangan, seiman, seagama, sekeyakinan, dan setarekat dapat dipandang sebagai keluarga karena jalan yang mereka tempuh bersama.
Gagasan ini memberikan makna lain bagi sebuah jamaah. Ikatan tidak berhenti pada siapa orang tua seseorang atau dari keluarga mana ia berasal, tetapi juga tumbuh dari kesamaan komitmen dan perjalanan spiritual.
Dalam kerangka tersebut, seorang anggota baru tidak harus memiliki latar belakang keluarga pesantren, garis keturunan ulama, atau pengetahuan agama yang tinggi untuk diterima sebagai saudara seperjalanan.
Yang lebih penting adalah kesediaan untuk belajar, menjalani pembinaan, dan berusaha memperbaiki diri.
Cara pandang itu sejalan dengan pendekatan dakwah Kiai Tar. Ia berusaha membuka pintu bagi orang yang datang dari berbagai latar belakang, kemudian membimbing mereka melalui jalan yang diyakininya.
Jika pada masa kecil ia belajar membaca tanda-tanda kecil di sekitar rumah, pada masa dewasa ia menghadapi persoalan yang lebih besar: bagaimana membuat orang-orang yang berbeda latar belakang bersedia berjalan menuju tujuan yang sama?
Jawabannya tidak hanya ditemukan dalam ceramah, melainkan juga dalam cara ia membangun hubungan.
Delapan puluh tahun perjalanan dan satu pertanyaan yang masih relevan
Pada 14 Oktober 2026, Kiai Mukhtar Mu'thi genap berusia 98 tahun menurut tanggal kelahirannya, 14 Oktober 1928.
Perjalanan hidupnya, sebagaimana dituturkan dalam buku sejarah dan kisah-kisah di lingkungan Shiddiqiyyah, memperlihatkan sejumlah babak yang saling terhubung: kelahiran di tengah prahoro, masa kecil yang penuh cerita, pendidikan pesantren, tanggung jawab keluarga, pengembaraan mencari guru, penerimaan amanat untuk menghidupkan kembali nama Shiddiqiyyah, hingga pembangunan jamaah melalui pendekatan dakwah yang berbeda.
Tidak semua kisah dalam perjalanan itu dapat diperlakukan sebagai fakta yang telah diverifikasi secara independen. Sebagian bersumber dari buku internal, penuturan keluarga, dan tradisi lisan para pengikutnya. Namun, sumber-sumber tersebut memperlihatkan bagaimana lingkungan Shiddiqiyyah memahami perjalanan tokoh yang menjadi pusat perkembangan tarekat mereka.
Di antara semua cerita itu, ada satu benang merah yang menonjol: Kiai Tar berusaha menemukan jalan agar orang yang belum mengenal kehidupan agama dapat mulai mendekat kepada Tuhan.
Ia tidak memulai dari pasar dengan membangun jarak antara dirinya dan masyarakat. Ia justru berdagang arloji, mengamati kehidupan orang-orang, lalu memperkenalkan ajaran secara bertahap.
Ia tidak hanya menunggu orang yang telah siap menjalani pembinaan. Ia juga mendatangi mereka yang masih harus belajar dari awal.
Pendekatan semacam itu tentu memiliki tantangan. Pembinaan spiritual tidak berhenti pada ketertarikan awal. Ia menuntut kesinambungan, kedisiplinan, dan pendampingan agar keyakinan benar-benar tercermin dalam perilaku.
Tetapi di situlah inti kisah perjalanan Kiai Tar: membangun jalan masuk bagi orang-orang yang sebelumnya merasa jauh dari kehidupan agama, kemudian berusaha membimbing mereka untuk terus melangkah.
Dari seorang bayi yang lahir ketika angin ribut melanda Losari, ia tumbuh menjadi santri, pencari ilmu, pengembara, murid seorang guru sufi, dan tokoh yang menghidupkan kembali nama sebuah tarekat.
Dari puluhan pengikut, Shiddiqiyyah kemudian berkembang menjadi jaringan jamaah yang disebut tersebar luas di berbagai daerah Indonesia.
Kisah ini pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa besar sebuah gerakan tumbuh. Ia juga tentang bagaimana sebuah gerakan menemukan pintu masuk ke dalam kehidupan manusia.
Sebab, membangun jamaah tidak selalu dimulai dengan mengumpulkan banyak orang. Terkadang, ia bermula dari keberanian memahami mereka yang belum siap, kesediaan mendekati mereka tanpa menghakimi, dan ketekunan mendampingi mereka setelah langkah pertama diambil.
Itulah bagian yang membuat perjalanan Kiai Mukhtar Mu'thi layak ditelusuri hingga akhir: bukan semata-mata karena ia lahir di tengah prahoro, melainkan karena dari kampung yang pernah dilanda angin ribut itu, ia membangun sebuah perjalanan panjang tentang pencarian, keyakinan, dan cara mengajak manusia berjalan bersama.