ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kisah Kiai Tar, Murid yang Memilih Bertahan di Indonesia dan Menghidupkan Kembali Shiddiqiyyah
· 18 menit baca · Diperbarui
Enam bulan di Rejoso, hafalan Al-Qur'an mencapai 18 juz
Mukhtar mengawali pendidikan formal keagamaannya di Madrasah Ibtidaiyah Ngelo, sekitar dua kilometer di selatan Losari. Ia menyukai pelajaran menulis huruf Al-Qur'an dan disebut berhasil menghafal enam juz selama masa belajar di sana.
Pada usia sekitar 15 tahun, ia melanjutkan pendidikan ke Pesantren Rejoso, yang kini dikenal sebagai Pesantren Darul Ulum, Peterongan, Jombang.
Masa belajarnya di pesantren tersebut terbilang singkat. Hanya sekitar enam bulan. Akan tetapi, menurut riwayat pendidikannya, dalam kurun waktu itu ia menambah hafalan Al-Qur'an sebanyak 12 juz, sehingga total hafalannya mencapai 18 juz.
Riwayat ini dicatat dalam buku A. Munjin Nasih, Sepenggal Perjalanan Hidup Sang Mursyid Kiai Muchammad Muchtar Bin Haji Abdul Mu'thi terbitan 2006.
Dari Rejoso, Mukhtar melanjutkan perjalanan ke Pesantren Bahrul 'Ulum, Tambak Beras, Jombang. Di sana, ia mempelajari sejumlah kitab, antara lain Taqrib, Nahwu, Sharaf, dan Tafsir Jalalain, di bawah bimbingan KH. Abdul Hamid Chasbullah, kakak KH. Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama.
Ia juga belajar Shahih Bukhari bersama Kiai Fattah dan Fathul Mu'in bersama Kiai Masduqi.
Masa belajarnya di Tambak Beras berlangsung sekitar delapan bulan. Meski tidak lama menetap, hubungannya dengan tradisi pengajian pesantren terus terpelihara. Setiap Ramadan, ia kembali mengikuti ngaji pasan, pengajian intensif yang berlangsung selama bulan puasa.
Pendidikan Mukhtar sebenarnya masih dapat berlanjut. Namun, keadaan keluarga berkata lain.
Pada 1948, ayahnya, KH. Abdul Mu'thi, wafat. Kesulitan ekonomi membuat Mukhtar harus mengambil tanggung jawab lebih besar. Ia menjadi tulang punggung keluarga dan meninggalkan kehidupan sebagai santri penuh waktu.
Di titik ini, perjalanan hidupnya berbelok. Jalan menuju pengetahuan tidak lagi hanya melalui bangku pesantren, melainkan juga melalui pekerjaan, perjumpaan dengan orang-orang, dan pengalaman hidup.
Ia tetap mencari ilmu, tetapi kini pencarian itu berjalan beriringan dengan kewajiban menghidupi keluarga.