ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
OPSHID Bangun 507 Rumah Gratis, Cermin Lawan Mental Inlander
· 4 menit baca · Diperbarui
Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) mencatat 507 unit Rumah Syukur telah berdiri hingga 2026. Semua rumah gratis itu diperuntukkan bagi warga yang membutuhkan, dan nilai pembangunannya secara keseluruhan melampaui Rp39 miliar.
Uangnya berasal dari kantong sendiri. Selama lebih dari dua dekade gerakan ini berjalan, OPSHID tidak memakai dana negara. Organisasi itu juga tidak menyodorkan proposal bantuan, entah ke pemerintah ataupun ke kalangan swasta.
Ringkasnya, capaian program itu tercatat seperti berikut:
- Rumah terbangun: 507 unit Rumah Syukur
- Nilai keseluruhan: melampaui Rp39 miliar
- Masa berjalan: di atas dua dekade, data hingga 2026
- Pendanaan: swadaya, tanpa dana negara dan tanpa proposal kepada pemerintah maupun swasta
Deretan angka itu punya wajah manusia. Bangunan yang semula tak layak kini bisa ditempati lagi. Sejumlah keluarga mendapat hunian yang lebih aman dan, setelah bertahun-tahun bergulat dengan serba kekurangan, kembali memiliki harapan.
Dari sana muncul soal yang lebih luas. Seberapa besar sebenarnya keyakinan orang Indonesia bahwa masalah di sekitarnya bisa dibereskan oleh tangan sendiri? Pertanyaan itu kian terasa ketika ukuran kemajuan masih kerap dipinjam dari luar negeri, sementara prakarsa lokal jarang mendapat sorotan.
Bule Lewat, Warga Sibuk Memotret
Potret kecil gejala ini sering kita saksikan pada kehidupan di masyarakat, contoh: ketika ada seorang bule yang lewat di dekat kita atau kita jumpai di tempat tempat wisata. Warga langsung heboh dan ingin berfoto bersama.
Kejadian sederhana itu mendorong sang penulis berpikir ulang tentang cara banyak orang menempatkan warga asing, seolah-olah paras dan negara asal sudah cukup menjadi alasan untuk diistimewakan. Tulisan tersebut menegaskan, kelahiran di luar negeri tidak menjamin seseorang lebih pintar, lebih baik, atau lebih unggul. Sebaliknya, tumbuh besar di Indonesia juga tidak membuat derajat seseorang lebih rendah.
Wajar bila rupa, bahasa, adat, dan budaya berbeda-beda. Yang patut digugat adalah saat perbedaan itu dipakai sebagai timbangan untuk memilah siapa yang pantas dikagumi dan siapa yang dipandang sebelah mata.
Jejak Kolonial Istilah Inlander
Kata inlander lahir pada zaman Hindia Belanda. Sebutan itu dikenakan kepada kaum pribumi, yang dalam tatanan sosial masa itu diletakkan lebih rendah daripada golongan Eropa.
Sekarang, ungkapan mental inlander biasa dipakai untuk melukiskan rasa minder terhadap bangsa sendiri, lengkap dengan anggapan bahwa yang serba asing pasti lebih bagus. Bentuknya macam-macam. Barang impor langsung dicap bermutu sebelum diuji. Ide dari luar cepat diterima, sedangkan ide lokal harus berjuang lebih keras melawan keraguan.
Prestasi orang asing disanjung sebagai tanda kehebatan. Prestasi anak negeri, sebaliknya, kadang lewat begitu saja.
Namun, kekaguman pada negeri lain tidak selalu berakar pada mentalitas itu. Keterbukaan berpikir justru tampak saat seseorang mau mengapresiasi kualitas, menimba pengalaman dari bangsa lain, serta mengakui kelebihan pihak lain. Masalah baru timbul bila asal-usul, bukan fakta, yang dijadikan dasar penilaian.
Kerja Panjang di Balik 507 Rumah
Program Rumah Syukur memberi cara lain untuk membaca persoalan tersebut. Pembangunan rumah gratis OPSHID sudah sampai yang ke-507 rumah senilai lebih dari Rp39 miliar dibangun dengan biaya swadaya sepanjang gerakan yang kini berumur lebih dari dua puluh tahun.
Di balik setiap unit ada rangkaian kerja yang rumit. Dana mesti dikumpulkan dan orang-orang perlu diorganisasi. Penerima manfaat harus dipilih, proses konstruksi diawasi, lalu kelangsungan program dijaga dari tahun ke tahun.
Mendirikan rumah tidak cukup bermodal niat baik. Pekerjaan ini menuntut sumber daya, koordinasi, kegigihan, dan komitmen yang tak luntur bertahun-tahun.
Satu program tentu tidak membuktikan bahwa semua masalah bangsa sudah selesai. Akan tetapi, hasil yang kasatmata seperti ini memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia pun sanggup membangun, berorganisasi, dan menolong sesama lewat gerakan bersama yang lahir dari lingkungannya sendiri.
Menilai dengan Bukti, Bukan Label
Menengok kemajuan negara lain tetap perlu. Banyak hal bisa dipetik dari sana, mulai dari teknologi, pendidikan, tata kelola, dan disiplin sampai beragam inovasi yang sudah teruji.
Hanya saja, belajar tidak identik dengan minder. Orang bisa mengakui kelebihan bangsa lain di satu bidang tanpa menganggap negerinya sendiri tidak mampu. Keberhasilan negara lain pun bisa dipuji sambil tetap melihat capaian di dalam negeri.
Patokannya bukti, bukan label asing atau lokal. Produk luar yang memang unggul layak diakui karena mutunya. Gagasan dalam negeri yang terbukti berguna juga pantas dihargai setara. Dengan timbangan yang adil, rasa bangga tidak tergelincir menjadi congkak, dan sikap terbuka tidak berubah menjadi rendah diri.
Slogan cinta tanah air saja tidak cukup untuk menumbuhkan keyakinan semacam itu. Rasa percaya diri baru menguat bila ditopang karya, pengalaman, serta bukti yang dapat diuji. Ke-507 Rumah Syukur adalah salah satu bahan renungan ke arah sana, bukan untuk mengklaim semua hal di dalam negeri sudah sempurna, melainkan untuk memperlihatkan bahwa gerakan sosial yang awet dan berdampak nyata bisa lahir dari masyarakat Indonesia sendiri.
Kemajuan tak harus diimpor dari jauh. Bibitnya kerap ada di lingkungan terdekat, pada kepedulian yang dirawat puluhan tahun oleh orang-orang yang bekerja tanpa banyak bicara.