ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Syekh Moch. Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu'thi Uraikan Manusia sebagai Wadah Pengabdian
· 4 menit baca · Diperbarui
Tubuh, pikiran, dan perasaan hanyalah wadah. Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah KH Muchtar Mu'thi menjelaskan apa yang semestinya mengisi wadah kehidupan manusia, serta mengapa niat menjadi pengarah seluruh aktivitas menuju Allah.
Manusia kerap disibukkan dengan urusan jasmani dan rohani, mengejar berbagai keinginan, serta larut dalam perasaan senang maupun sedih. Namun, di balik seluruh aktivitas itu, ada pertanyaan mendasar yang perlu direnungkan: apa sebenarnya yang mengisi kehidupan manusia?
Syekh Moch. Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu'thi, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, menguraikan manusia sebagai wadah. Bukan hanya tubuh, tetapi juga pikiran, perasaan, ucapan, pendengaran, penglihatan, dan seluruh gerak kehidupan.
Manusia Adalah Wadah
Syekh Moch. Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu'thi menjelaskan bahwa tubuh merupakan wadah jasmani, sedangkan pikiran dan perasaan merupakan bagian dari wadah rohani. Perasaan senang maupun sedih, misalnya, sama-sama menjadi bagian dari pengalaman yang ditampung manusia.
Begitu pula ucapan, pendengaran, penglihatan, dan gerakan. Semuanya merupakan bagian dari perangkat kehidupan manusia. Persoalannya bukan semata-mata bagaimana merawat wadah tersebut, melainkan juga apa yang mengisinya.
Menurut beliau, manusia sering kali sibuk mengurusi wadah, tetapi kurang memperhatikan isinya. Pikiran dipenuhi berbagai keinginan, perasaan menampung beragam pengalaman, sementara hati dapat menerima banyak hal tanpa disadari arah dan akibatnya.
Beliau menggambarkan keadaan itu melalui sebuah perumpamaan: sesuatu yang ditampung manusia dibawa hingga akhirat. Ketika dibuka, ternyata isinya bukan sesuatu yang dipesan oleh Allah.
Perumpamaan tersebut mengajak manusia untuk memeriksa kembali apa yang selama ini memenuhi hati dan kehidupannya. Sebab, tidak semua yang dikejar, dipikirkan, diucapkan, atau dikerjakan otomatis menjadi bekal pengabdian kepada Allah.
Apa yang Semestinya Mengisi Kehidupan?
Lantas, apa yang seharusnya mengisi wadah kehidupan manusia?
Syekh Moch. Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu'thi mengarahkan pembahasan pada prinsip lillah, yakni segala sesuatu yang ditujukan karena dan untuk Allah. Beliau merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur'an, Surah Al-An'am ayat 162:
“Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil 'alamin.”
Artinya: “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa pengabdian kepada Allah tidak berhenti pada ibadah tertentu. Seluruh kehidupan manusia, termasuk aktivitas sehari-hari, perlu memiliki arah pengabdian yang benar.
Dengan demikian, hidup bukan sekadar bergerak, berbicara, berpikir, bekerja, atau menjalankan rutinitas. Hal-hal tersebut merupakan bagian dari wadah yang perlu diisi dengan pengabdian atau ibadah kepada Allah.
Pengabdian Berlandaskan Perintah Allah
Dalam penjelasannya, Syekh Moch. Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu'thi menempatkan perintah dan larangan Allah sebagai dasar pengabdian. Manusia mengarahkan kehidupannya dengan menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.
Pengabdian itu mencakup seluruh yang dimiliki manusia: ucapan, pendengaran, pikiran, kesadaran, gerakan, dan berbagai aktivitas lainnya.
Artinya, yang diarahkan kepada Allah bukan hanya waktu ketika seseorang menjalankan ibadah secara khusus. Cara berbicara, menggunakan pikiran, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Prinsip lillah mengajak manusia melihat kehidupan secara utuh. Setiap kemampuan yang dimiliki bukan sekadar sarana untuk memenuhi keinginan pribadi, melainkan juga amanah yang harus digunakan sesuai dengan tuntunan Allah.
Niat Menjadi Pengarah Seluruh Aktivitas
Bagaimana agar seluruh aktivitas kehidupan dapat diarahkan kepada Allah?
Syekh Moch. Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu'thi menekankan pentingnya niat. Niat menjadi pengarah yang menentukan ke mana suatu aktivitas ditujukan. Karena itu, seluruh kegiatan perlu dilandasi niat yang benar dan diarahkan pada pengabdian kepada Allah.
Aktivitas yang tampak sederhana sekalipun perlu memiliki arah yang jelas. Bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi juga untuk apa dan bagaimana hal itu dilakukan menjadi bagian dari perenungan.
Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan ungkapan bahasa Jawa, “Oleh sebab itu, gereng kabeh karo niat,” yang dalam konteks pembicaraan tersebut mengarahkan perhatian pada pentingnya niat bagi seluruh aktivitas kehidupan.
Niat bukan sekadar sesuatu yang diucapkan, melainkan penentu arah batin yang perlu selaras dengan tindakan. Tanpa arah yang benar, manusia dapat menghabiskan banyak waktu dan tenaga tanpa memahami nilai pengabdian dari apa yang dikerjakannya.
Memeriksa Kembali Isi Wadah Kehidupan
Pitutur tentang manusia sebagai wadah membawa manusia pada pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar kesibukan sehari-hari: apakah seluruh yang kita pikirkan, rasakan, ucapkan, dan kerjakan sudah diarahkan kepada Allah?
Tubuh akan mengalami perubahan, perasaan datang dan pergi, pikiran terus bergerak, dan kehidupan pada akhirnya akan sampai pada batasnya. Karena itu, manusia perlu menyadari bahwa yang terpenting bukan hanya menjaga wadah, melainkan juga memperhatikan apa yang mengisinya.
Melalui prinsip lillah, Syekh Moch. Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu'thi mengajak manusia menempatkan pengabdian kepada Allah sebagai arah kehidupan. Niat menjadi pengarah, sedangkan seluruh aktivitas menjadi bagian dari ruang pengabdian yang perlu dijalankan sesuai dengan perintah dan larangan-Nya.
Pada akhirnya, manusia bukan hanya perlu bertanya tentang apa yang telah diperolehnya selama hidup, tetapi juga tentang untuk siapa hidup itu dijalankan. Sebab, nilai kehidupan tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya aktivitas, melainkan juga oleh arah pengabdian yang mendasarinya.
Sumber: Pitutur Syekh Moch. Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu'thi, “Manusia Adalah Wadah”